Skip to main content Skip to main content
Manufaktur

FIFO Adalah: Pengertian, Contoh dan Cara Menghitungnya

Developer SAFFix
7 min read
FIFO Adalah: Pengertian, Contoh dan Cara Menghitungnya

FIFO adalah metode penghitungan persediaan yang mengasumsikan barang yang datang lebih dulu akan laku lebih dulu. Singkatan dari First In First Out, pelaku UMKM di Indonesia paling banyak menerapkan metode ini karena sederhana dan sesuai dengan arus barang yang sebenarnya.

Bayangkan Anda memiliki dua batch oli motor: batch pertama 50 liter seharga Rp 50.000 per liter, batch kedua 30 liter seharga Rp 55.000 per liter. Ketika pelanggan membeli 40 liter, metode FIFO mengambil seluruh 40 liter dari batch pertama yang datang lebih awal. Hasilnya, harga pokok penjualan Anda adalah 40 × Rp 50.000 = Rp 2.000.000.

Tanpa metode yang jelas, Anda bisa salah menghitung laba rugi dan membuat laporan keuangan yang tidak akurat. Artikel ini akan menjelaskan metode first in first out dari awal sampai akhir — pengertian, cara menghitung, contoh penerapan di berbagai usaha, hingga perbandingan dengan metode lain.


Pengertian FIFO

FIFO adalah singkatan dari First In First Out, yang secara harfiah berarti "yang masuk lebih dulu, keluar lebih dulu". Dalam pengelolaan persediaan, metode ini mengasumsikan bahwa barang yang Anda beli atau produksi lebih awal adalah barang yang Anda jual atau gunakan lebih awal.

FIFO Menurut Standar Akuntansi

Dalam standar akuntansi Indonesia (PSAK), metode first in first out merupakan salah satu opsi resmi untuk menghitung nilai persediaan dan HPP. PSAK 14 tentang Inventaris memperbolehkan perusahaan memilih metode FIFO, average, atau metode lain asalkan konsisten dari satu periode ke periode lain.

Artinya, Anda bebas memilih metode penghitungan yang paling cocok dengan jenis usaha. Namun, pastikan keputusan tersebut konsisten — tidak boleh berganti metode setiap bulan tanpa alasan yang kuat.

Mengapa FIFO Populer di Kalangan UMKM?

Metode first in first out menjadi pilihan utama pelaku UMKM karena tiga alasan utama.

Pertama, prinsip "beli duluan, jual duluan" sesuai dengan realitas bisnis sehari-hari. Sebagian besar barang memang lebih baik Anda jual lebih dulu untuk menghindari kerusakan atau kadaluarsa.

Kedua, cara menghitungnya relatif mudah Anda pahami. Anda tidak memerlukan pengetahuan akuntansi yang rumit — cukup ambil dari batch paling awal terlebih dahulu.

Ketiga, standar akuntansi Indonesia mengakui metode ini sehingga hasil perhitungan bisa Anda gunakan untuk pelaporan keuangan resmi dan perpajakan.


Cara Menghitung HPP dengan Metode FIFO

Untuk memahami bagaimana metode first in first out bekerja dalam praktik, mari kita lihat contoh perhitungan lengkap.

Langkah-Langkah Perhitungan

Cara 1: Catat semua batch pembelian beserta harga dan jumlahnya secara berurutan sesuai tanggal.

Langkah 2: Identifikasi jumlah barang yang terjual pada periode tersebut.

Langkah 3: Ambil harga dari batch paling awal terlebih dahulu. Jika batch pertama tidak cukup, ambil dari batch kedua, dan seterusnya.

Langkah 4: Kalikan jumlah yang Anda ambil dari masing-masing batch dengan harganya, lalu jumlahkan untuk memperoleh total HPP.

Langkah 5: Hitung sisa persediaan akhir berdasarkan batch yang belum terjual.

Contoh Perhitungan: Toko Oli Motor

Anda memiliki data pembelian oli motor sebagai berikut:

TanggalKeteranganJumlah (Liter)Harga per LiterTotal
1 JanPembelian batch 150Rp 50.000Rp 2.500.000
15 JanPembelian batch 230Rp 55.000Rp 1.650.000
Total80Rp 4.150.000

Pada akhir Januari, Anda menjual 60 liter oli. Dengan metode FIFO, Anda mengambil dari batch pertama terlebih dahulu.

60 liter terjual = 50 liter dari batch 1 + 10 liter dari batch 2

Maka perhitungannya:

  • HPP = (50 × Rp 50.000) + (10 × Rp 55.000)
  • HPP = Rp 2.500.000 + Rp 550.000 = Rp 3.050.000

Sisa persediaan akhir:

  • Sisa stok = 80 − 60 = 20 liter
  • Nilai stok = 20 × Rp 55.000 = Rp 1.100.000 (dari batch 2)

Perhitungan ini menunjukkan bahwa metode first in first out menghasilkan HPP yang lebih rendah ketika harga beli naik dari waktu ke waktu, sehingga laba kotor yang perusahaan laporkan akan lebih besar.


Kelebihan dan Kekurangan FIFO

Setiap metode penghitungan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Berikut ulasan lengkap untuk membantu Anda memutuskan.

Kelebihan Metode First In First Out

Sesuai arus barang yang sebenarnya. Dalam kebanyakan bisnis, barang memang lebih baik Anda jual lebih dulu. Untuk bahan makanan atau minuman, barang yang datang lebih awal memiliki masa simpan lebih pendek sehingga harus cepat Anda lepas.

Menghasilkan laporan yang realistis. Karena mencerminkan arus barang aktual, metode ini menghasilkan angka HPP dan laba yang lebih mendekati kondisi bisnis sesungguhnya.

Mudah Anda pahami dan Anda terapkan. Prinsip "yang masuk duluan, keluar duluan" sangat intuitif. Bahkan pelaku usaha tanpa latar belakang akuntansi pun bisa menerapkannya.

Standar akuntansi Indonesia mengakui. PSAK mengakui metode first in first out sehingga hasil perhitungan bisa Anda gunakan untuk laporan keuangan resmi dan pelaporan pajak.

Kekurangan FIFO

Laba tampak lebih besar saat harga naik. Ketika harga beli barang naik dari waktu ke waktu (inflasi), metode first in first out menghasilkan HPP yang lebih rendah karena menggunakan harga lama. Laba kotor yang perusahaan cantumkan tampak lebih besar — meskipun ini sebenarnya lebih mencerminkan realitas.

Tidak selalu cocok untuk barang homogen. Untuk barang yang tidak memiliki perbedaan kualitas antar batch, metode average mungkin memberikan hasil yang lebih praktis.


Contoh Penerapan FIFO dalam Berbagai Usaha

Berikut contoh penerapan metode first in first out untuk tiga jenis usaha yang berbeda.

Toko Kelontong

Toko kelontong membeli dua kali sabun cuci: 50 pack seharga Rp 15.000 per pack pada tanggal 1, dan 30 pack seharga Rp 16.000 per pack pada tanggal 10. Ketika menjual 40 pack pada tanggal 15, harga pokok penjualannya adalah: 40 × Rp 15.000 = Rp 600.000. Sisa stok adalah 40 pack: 10 pack dari batch 1 (Rp 150.000) dan 30 pack dari batch 2 (Rp 480.000), total Rp 630.000.

Bengkel Motor

Bengkel membeli oli dalam dua batch: 20 liter seharga Rp 45.000 per liter dan 15 liter seharga Rp 48.000 per liter. Ketika bengkel menggunakan 25 liter untuk servis pelanggan, 20 liter bengkel ambil dari batch pertama dan 5 liter dari batch kedua. HPP oli yang terpakai adalah: (20 × Rp 45.000) + (5 × Rp 48.000) = Rp 900.000 + Rp 240.000 = Rp 1.140.000.

Café atau Restoran

Café membeli susu segar: 50 liter seharga Rp 18.000 per liter minggu pertama, dan 40 liter seharga Rp 19.000 per liter minggu kedua. Ketika menggunakan 60 liter untuk membuat kopi dan minuman lain, HPP susu adalah: (50 × Rp 18.000) + (10 × Rp 19.000) = Rp 900.000 + Rp 190.000 = Rp 1.090.000.


Perbandingan FIFO dengan Metode Lain

Untuk membantu Anda memilih metode yang tepat, berikut perbandingan metode first in first out dengan dua metode penghitungan persediaan lainnya.

FIFO vs Average (Rata-rata)

Metode average menghitung harga pokok berdasarkan rata-rata harga seluruh persediaan yang tersedia. Perhitungan ini lebih sederhana tetapi kurang akurat untuk barang dengan masa simpan terbatas. Metode average cocok untuk usaha dengan jenis barang yang homogen dan seragam.

FIFO vs LIFO (Last In First Out)

LIFO mengasumsikan barang yang Anda beli lebih akhir akan laku lebih dulu. Meskipun populer di beberapa negara, standar akuntansi Indonesia (PSAK) tidak mengakui LIFO. Anda tidak bisa menggunakannya untuk pelaporan keuangan resmi di Indonesia.

Kapan Sebaiknya Memilih FIFO?

Metode first in first out menjadi pilihan terbaik ketika barang Anda memiliki masa simpan terbatas, harga beli cenderung naik dari waktu ke waktu, dan Anda ingin laporan keuangan mencerminkan realitas arus barang. Metode ini juga menjadi pilihan paling aman dari sisi kepatuhan akuntansi di Indonesia.


Kesimpulan: FIFO untuk HPP yang Lebih Akurat

Metode first in first out merupakan metode penghitungan persediaan yang praktis, mudah Anda pahami, dan sesuai dengan kondisi bisnis sebagian besar UMKM. Dengan menerapkan FIFO, Anda bisa menghitung HPP dengan lebih akurat dan membuat laporan keuangan yang lebih realistis.

Intinya, pahami prinsip dasarnya — barang yang datang lebih dulu harus cepat Anda jual — dan terapkan secara konsisten. Untuk mempermudah pencatatan dan perhitungan, manfaatkan software seperti PaYou yang mendukung metode FIFO secara otomatis.


Ingin menghitung HPP dengan metode FIFO secara otomatis? Coba PaYou sekarang dan nikmati fitur inventory yang mendukung metode first in first out untuk perhitungan HPP yang akurat.


Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)

Apakah FIFO Wajib Digunakan untuk UMKM?

Tidak ada kewajiban menggunakan metode first in first out. UMKM boleh memilih metode penghitungan persediaan yang paling sesuai — bisa FIFO, average, atau metode lain yang penting konsisten dari satu periode ke periode lain. Namun, metode ini menjadi rekomendasi karena sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku di Indonesia.

Bagaimana FIFO Mempengaruhi Pajak?

Karena metode first in first out menghasilkan HPP yang lebih rendah saat harga naik, laba kotor yang perusahaan laporkan akan lebih besar. Ini berarti perhitungan pajak penghasilan juga berdasarkan laba yang lebih besar. Namun, ini sebenarnya lebih adil karena mencerminkan kondisi bisnis yang sebenarnya.

Bagaimana Cara Menghitung FIFO dengan Banyak Batch?

Prinsipnya tetap sama: ambil dari batch paling awal terlebih dahulu. Jika batch pertama tidak cukup untuk menutup jumlah yang terjual, ambil dari batch kedua, dan seterusnya. Kalikan jumlah yang laku dengan harga masing-masing batch sesuai urutan masuk.

Bisakah FIFO Diterapkan dengan Software Pembukuan?

Ya, software pembukuan modern seperti PaYou sudah mendukung perhitungan FIFO secara otomatis. Anda cukup mencatat setiap transaksi pembelian dan penjualan, lalu sistem akan menghitung HPP berdasarkan metode first in first out tanpa perlu input manual.


Artikel terkait :
Apa Itu HPP? Pengertian, Contoh Kasus, dan Cara Menghitungnya

Bagikan artikel ini:

Artikel Lainnya

Lihat Semua