Dapatkan software gratis bagi anda yang memenuhi kriteria UMKM

Daftar
  1. Cara Menyadari Kerugian Usaha dengan Rumus BEP

Post Thumbnail

Cara Menyadari Kerugian Usaha dengan Rumus BEP

Saat kita membaca berita mengenai potensi atau performa suatu bisnis, sering kali yang dibahas hanya omzetnya saja. Meskipun omzet juga merupakan indikator yang penting dalam bisnis, tapi perlu diketahui bahwa omzet ‘hanyalah’ pendapatan kotor saja, bukan laba. Karena itu, tidak jarang pengusaha terlambat menyadari kerugian bisnisnya karena terlalu terpaku pada omzet. Namun, semua itu bisa dicegah dengan mengetahui rumus BEP.

Biasanya, kerugian usaha baru disadari saat akhir bulan. Ada saja hal yang terlambat diketahui seperti kurangnya dana untuk gaji atau belanja stok bulanan. Oleh karena itu, kami akan mengupas tuntas rumus BEP mulai dari pengertian hingga cara menghitungnya. Tanpa perlu berlama-lama, yuk simak ulasan berikut.

Apa Itu BEP?

Secara sederhana, BEP (Break Even Point) adalah titik impas, yakni kondisi ketika total pendapatan sudah sama persis dengan total biaya yang dikeluarkan selama bisnis beroperasi. Di titik ini, laba bersih perusahaan sebenarnya adalah NOL. Hal itulah yang membuat BEP kerap diremehkan, padahal perhitungannya sangatlah krusial bagi pengusaha pemula.

Bila diibaratkan, coba bayangkan jika usahamu adalah sebuah perahu. Selama posisi perahu masih berada di atas garis ombak air, maka perahu (bisnis) kamu masih memiliki daya apung yang baik (potensi profit). Jika perahumu mulai bocor dan kemasukan ombak air, maka ada tanda-tanda perahu mulai tenggelam (rugi). Karena itulah BEP dapat berperan sebagai indikator hidup-matinya sebuah perusahaan.

Komponen yang Wajib Dimasukkan dalam Perhitungan BEP

Mengukur BEP bukan hanya perkara menghitung total pendapatan yang didapat dan total biaya yang sudah dikeluarkan belaka. Beberapa pelaku UMKM gagal mendeteksi kerugian bukan karena mereka tidak mahir menghitung, tapi lebih karena mereka gagal mengidentifikasi dan mengklasifikasikan biaya dengan benar. Oleh karena itu, ada komponen yang wajib dimasukkan ke dalam hitung-hitungan BEP sebagai berikut:

1. Biaya Tetap (Fixed Cost)

Fixed cost adalah biaya yang harus dikeluarkan pelaku usaha secara konstan, baik saat ada penjualan atau tidak. Biaya ini terikat oleh waktu, bukan produksi atau penjualan. Suatu usaha bisa saja tidak menghasilkan pendapatan sama sekali selama sebulan, tapi tetap ada biaya yang harus dikeluarkan seperti:

  • Sewa Properti : Ruko, gedung, atau lapak yang disewa pasti harus dibayar setiap bulan bukan? Maka ini wajib masuk ke dalam hitungan BEP.
  • Gaji Karyawan Tetap: Gaji karyawan tetap seperti manajer, admin, dan staf inti harus dibayar rutin setiap bulan, bukan berdasarkan kapasitas produksi.
  • Biaya Langganan: Biasanya mencakup biaya internet/Wi-Fi, software tertentu, asuransi, katering, dll

2. Biaya Variabel (Variable Cost)

Berbeda dengan fixed cost yang biayanya tetap tiap periode waktu tertentu, maka variable cost cenderung fluktuatif. Biasanya biayanya proporsional dengan volume penjualan. Kalau pendapatan nol, maka kemungkinan biaya ini juga nol. Adapun contoh biaya variabel meliputi bahan baku produksi, kemasan, biaya admin transaksi, biaya ongkir yang ditanggung penjual, komisi sales, dll.

3. Biaya Semi-Variabel

Ada beberapa komponen biaya yang memiliki elemen tetap dan variabel seperti listrik dan air. Karena pemakaian listrik sendiri bisa berbeda-beda tiap bulannya, sehingga tagihannya bisa berubah-ubah.

Jika kamu punya usaha manufaktur/produksi berat yang pemakaian listriknya bergantung pada produksi, maka masukkan tagihan listrik ke biaya variabel. Karena tagihan listrik saat mesin memproduksi 100 roti dengan 1000 roti akan berbeda bukan? Namun kalau usahamu adalah toko/kantor/retail dengan jam kerja tetap, maka masukkan ke biaya tetap.

4. Biaya Siluman (Hidden Cost)

Di dunia bisnis, apa lagi di Indonesia, terkadang ada saja biaya tersembunyi atau tak terduga yang harus dikeluarkan. Tak jarang pengeluaran ini tidak dimasukkan ke dalam buku besar akuntansi perusahaan.

Contoh yang paling umum ditemukan adalah pungutan liar yang tidak resmi. Biasanya tagihan ini diminta dengan dalih uang keamanan, sumbangan acara warga, dll. Walau biayanya terkadang cukup remeh (misal 50 ribuan), tapi jika terus berlangsung, akumulasinya bisa setara biaya listrik bulanan.

Cara Menghitung Rumus BEP

Rumus BEP yang paling sederhana bisa dilakukan dengan membagi biaya tetap dan margin kontribusi. Nah, margin kontribusi adalah adalah sisa uang dari harga jual produk dikurangi biaya produksinya (variabel). Adapun dinamakan kontribusi karena sisa uang inilah yang akan digunakan untuk membayar operasional seperti sewa toko, gaji karyawan, dll.

Biar lebih sederhana, kami akan menyajikan studi kasus sederhana. Kami asumsikan kamu memiliki cafe yang buka setiap hari dengan catatan pengeluaran sebagai berikut:

  • Biaya Tetap (Fixed Cost):
    • Sewa Tempat: Rp 36.000.000/tahun = Rp 3.000.000/bulan.
    • Gaji Karyawan (1 Barista + 1 Kasir): Rp 4.500.000/bulan.
    • Listrik, Air, WiFi (rata-rata): Rp 1.000.000/bulan.
    • Biaya Lain-lain (Keamanan/Pungutan): Rp 500.000/bulan.
    • Total Biaya Tetap = Rp 9.000.000 per bulan.
  • Biaya Variabel (Variable Cost) per Cup "Es Kopi Susu":
    • HPP Bahan (Kopi, Susu, Gula): Rp 6.500.
    • Packaging (Cup, Sedotan, Plastik): Rp 1.500.
    • Total Biaya Variabel = Rp 8.000 per cup.
  • Harga Jual: Rp 15.000 per cup.

Dari situ, kita bisa hitung margin kontribusinya yakni yakni: 15.000 (harga jual) – 8000 (biaya variabel) = Rp 7.000. Itu berarti setiap es kopi susu yang laku akan menyumbang Rp 7.000 untuk biaya gaji dan operasional.

Setelah itu, baru kita bisa hitung BEP-nya dengan rumus: 9 juta (fixed cost)/7 ribu (margin kontribusi), yang hasilnya adalah 1.286 cup per bulan (dibulatkan. Karena cafe buka setiap hari, maka jumlah cupnya bisa dibagi 30, yang hasilnya sekitar 43 cup per hari.

Lalu, kita asumsikan lagi bahwa penjualan aktual hariannya ternyata hanya mampu 35 cup saja, yang di mana di bawah target BEP. Dengan kata lain, cafe ini mengalami defisit 8 cup setiap harinya. Jika dikalkulasikan, kerugiannya adalah: 8 cup x Rp 7.000 (margin) x 30 hari = -Rp 1.680.000 per bulan.

Ciri-ciri Usaha yang Merugi

Kerugian usaha ini memang sulit dideteksi karena sering hanya bisa dilihat lewat angka numerik. Namun, setidaknya ada indikator fisik yang bisa menandakan usaha sedang merugi tanpa harus mengecek buku besar lebih dulu seperti: berikut ini

1. Stok Habis tapi Uang Tidak Ada

Kejadian ini sering kali menghantui UMKM. Kamu bisa menyaksikan dengan mata sendiri bahwa daganganmu laku keras, banjir orderan setiap hari, dan stok bahan baku habis untuk produksi. Secara logika, kasirmu seharusnya penuh dengan uang bukan. Namun saat kamu mencoba restock bahan baku, uangnya malah kurang.

Seperti yang sudah dijelaskan, inilah pentingnya memahami BEP pada usaha. Fenomena ini biasanya disebabkan karena total penjualannya ternyata belum menutup target BEP. Selain itu, ada kebocoran biaya karena hal-hal yang tak terduga. Beberapa pemilik UMKM kadang juga kerap mengambil uang usaha tanpa dicek terlebih dahulu, sehingga tanpa sadar bisnisnya sudah merugi.

2. Penurunan Standar Usaha

Ketika bisnis merugi secara konstan, maka mau tidak mau segala cara akan dilakukan untuk bertahan. Maka dari itu tak heran jika ada usaha yang menurunkan standarnya secara besar-besaran baik dari fasilitas, kualitas produk, jumlah dang gaji karyawan, dll.

Misalnya, biaya listrik yang terlalu mahal akan membuatmu membiarkan AC rusak dan lampu mati sepanjang siang hari. Lalu bahan baku yang awalnya premium kini diganti dengan yang lebih murah, tapi rasanya tidak seenak sebelumnya. Dari situ, biasanya mulai banyak pelanggan yang komplain, dan itu adalah salah satu indikator kerugian usaha yang paling nyata.

Baca Juga: Software Keuangan Catering : Maksimalkan Keuntungan Usaha

Cegah Kerugian Usaha dengan Pembukuan dari PaYou!

PaYou menawarkan aplikasi pembukuan keuangan digital sebagai solusi pengawasan arus kas yang canggih untuk pelaku usaha, khususnya UMKM. Produk Akuntansi yang ditawarkan PaYou dapat mencatat dan menghitung setiap kas masuk/keluar, uang muka, dan jurnal.

Meskipun tidak ada fitur yang secara langsung menghitung BEP, namun laporan keuangan yang dihasilkan akan memudahkanmu untuk menghitungnya. Bayangkan jika kamu harus merekap seluruh cashflow dari awal bulan hanya untuk menemukan BEP, pasti akan merepotkan bukan? Namun dengan PaYou, semuanya bisa dilakukan secara mudah, cepat, dan pastinya terintegrasi dengan toko.

Kesimpulan

Tak bisa dipungkiri, kerugian usaha selalu menghantui setiap pebisnis. Bukan hanya karena takut kehilangan uang, tapi sering kali kerugian tersebut sulit disadari secara fisik. Oleh karena itu, menghitung rumus BEP menjadi salah satu solusi yang bisa digunakan untuk mencegah kerugian usaha yang lebih besar di masa depan.

109

Bagikan :